Cari Kerja? Wirausaha Saja!

Apapun yang dilakukan, apapun jenis usahanya, tidak akan terlihat hasilnya bila tidak dimulai

Sesuai dengan tagline pemerintah dalam mengurangi tingkat pengangguran terutama pengangguran terdidik, saya akan mencoba untuk memberikan beberapa tips bagi sang wirausaha pemula. Beberapa tips ini adalah hasil dari berbagai seminar bertema Enterpreneurship yang saya ikuti juga artikel yang saya baca.

Meskipun saya belum menjadi seorang yang sukses sebagai Entrepreneur, jangan jadikan hal tersebut halangan untuk melakukan dan mempraktekkan beberapa tips yang saya berikan ini. Saya mendapatkan ilmu untuk merangkai beberapa tips ini dari orang-orang yang terpercaya dan sudah terbukti kesuksesannya. Jadi, jangan ragu untuk dicoba dan dipraktekkan, ya..

1. Do Your Passion

Sebagai seorang wirausaha pemula, sangat baik untuk memulai usaha dalam hal yang disukai bukan hanya hal yang mendatangkan keuntungan besar. Jika kita melakukan hal yang disukai atau passion, maka segala halangan yang menghadang pun akan dihadapi dan segalanya terasa lebih mudah. Usaha pun dijalani dengan rasa enjoy dan keuntungan besar dapat datang dengan sendirinya.

2. Bermimpilah!

Bermimpilah sebesar-besarnya dan setinggi-tingginya akan usaha yang ingin dimiliki. Jangan takut untuk gagal, memulai saja belum kan? Bayangkan setiap proses yang akan dijalani dan betapa menyenangkannya proses tersebut karena melakukan hal yang disukai. Bayangkan pula rasa sukses yang nantinya akan diraih.

3. Tulis Rencana Usaha

Ibunda saya sering berkata, “Setajam-tajamnya otak, lebih tajam pensil yang tumpul.“ Maksudnya, adalah ide apapun yang berkelebat di otak kita baiknya segera ditulis sebelum mereka pergi entah kemana. Mulai dari ide dasar lalu dikembangkan menjadi spesifikasi produk hingga perkiraan modal awal.

Perjelas tujuan dari usaha yang akan dibangun. Jangan karena berasal dari mimpi sehingga membuat kita lalai untuk memperhatikan hal penting dalam dunia usaha. Buat bagan SWOT (Strenght, Weakness, Opportunity dan Threat) dalam rencana usaha.

Meskipun Shakespare berkata, “Apalah arti sebuah nama“, sesungguhnya nama adalah segalanya. Nama usaha yang diberikan adalah awal dari brand. Meski sederhana, pemberian nama yang unik dapat mendatangkan banyak perhatian dari masyarakat (brand awareness) terutama target konsumen.

4. Cari Partner

Kalau memang tidak sanggup untuk memulai usaha sendiri, carilah partner yang memiliki visi sama dan ajaklah dia untuk memulai usaha bersama. Memang rasanya sulit untuk menemukan partner yang tepat tetapi jangan jadikan hal tersebut alasan untuk putus asa dan tidak jadi memulai usaha.

5. Buat Rekening Khusus Untuk Usaha

Jangan mencampurkan rekening pribadi dengan rekening usaha. Bukalah rekening baru untuk mempermudah arus keuangan yang dimiliki oleh usaha. Catatan keuangan yang rapih dapat memudahkan kita untuk menentukan tingkat keuntungan hingga rencana yang harus diambil ke depan.

6. Promosi

Jangan ragu terlebih malu untuk promosi. Mulailah dari lingkup terdekat terlebih dahulu seperti keluarga, saudara, tetangga, teman dekat, hingga nantinya target konsumen. Di era teknologi saat ini, maksimalkan segala daya yang ada. Terlebih promosi melalu internet dan jejaring sosial terbukti sebagai promosi yang paling efektif juga efisien.

7. Manjakan Konsumen

Sebagai seorang wirausaha pemula, adanya konsumen adalah awal yang sangat menjanjikan. Oleh karena itu, usahakan semaksimal mungkin untuk dapat memuaskan konsumen, jangan sampai mengecewakan. Pelayanan dan produk yang optimal dapat memberikan pengaruh positif bagi usaha ke depan. Konsumen dapat memberikan informasi kepuasan mereka akan pelayanan dan produk usaha ke calon konsumen kita lainnya.

***

Apapun yang dilakukan, apapun jenis usahanya, tidak akan terlihat hasilnya bila tidak dimulai. Jadi, sukseskan segala rencana usaha dan jadilah seorang wirausaha muda yang tidak terpaku dalam mindset mencari kerja, terbebas dari label pengangguran dan menjadi sukses karena melakukan yang disukai. Good Luck! :)

Hikmah Pengangguran

Dibalik setiap segala sesuatu yang tidak menyenangkan tentu akan ada hikmah yang dapat diambil

Mungkin banyak yang berpikir, judul tulisan ini salah besar. Tidak akan ada hikmah yang dapat diambil dari masa yang rasanya suram, madesu dan tidak berperikemanusiaan ini. Masa yang merupakan titik terbawah dari seorang Sarjana. Masa yang tidak pernah diinginkan oleh banyak orang. Masa yang tidak pernah menjadi mimpi.

Tetapi, yang saya rasakan sangat berbeda. Masa pengangguran memberikan saya kesempatan untuk berpikir dan bersyukur. Saya dapat lebih menikmati hidup dan melihat segala sesuatu dari sisi yang berbeda. Masa penangguran juga menuntun saya untuk bertemu dengan banyak orang inspiratif yang mungkin tidak bisa saya temui bila saya telah disibukkan dengan aktivitas bekerja ala kantor.

Beberapa hikmah yang saya rasakan selama masa pengangguran adalah sebagai berikut:

1. Belajar untuk menjadi dewasa

Masa pengangguran membantu saya untuk belajar menjadi dewasa. Membantu saya untuk menyadari bahwa saya bukan lagi seorang mahasiswa yang bisa dengan mudah bersenang-senang dan hanya memikirkan masalah belajar saja. Membantu saya untuk menyadari bahwa ada banyak sekali tanggung jawab baru yang secara tidak langsung harus saya terima.

Mulai dari sikap diri yang lebih dewasa, umur yang lebih tua, gelar yang telah digenggam, kondisi sehari-hari yang amat berbeda, beban tak kasat mata dari keluarga dan tentunya tuntutan dari diri sendiri untuk dapat lebih berkembang. Masa pengangguran memberi kesempatan bagi saya untuk berpikir, terus bersyukur dan siap dalam menghadapi banyak tanggung jawab baru tersebut.

2. Pengendalian diri

Semua permasalahan ala pengangguran sebenarnya hanya wujud dari rasa khawatir yang berlebihan. Khawatir akan lama menjadi pengangguran, tidak memiliki penghasilan sendiri, tekanan dari banyak pihak, pertanyaan dari banyak orang, mengecewakan orang tua juga keluarga, dijauhi teman-teman bahkan khawatir dikucilkan masyarakat. Memang sulit untuk memahami sekitar saat seakan-akan tidak ada yang bisa dan ingin memahami kita. Tetapi, begitu kita meluangkan waktu sebentar untuk memahami dan mencoba untuk berpikir jernih, semua permasalahan pun selesai dengan sendirinya dan seakan tak pernah ada.

3. Menemukan Passion

Menurut Renee S, seorang Career Coach, Passion isn’t something that you like but you enjoy the most. Masa pengangguran yang menuntun saya bertemu dengan banyak orang inspiratif, sangat membantu saya untuk menemukan passion saya. Menemukan apa yang paling senang untuk saya lakukan dan saya merasa tidak keberatan untuk melakukannya meskipun banyak halangan yang menghadang.

4. Respect

Masa pengangguran membuat tingkat respect saya semakin tinggi. Bukan hanya sekedar respect akan seseorang tetapi juga respest terhadap apapun yang dia lakukan. Perbedaan pemikiran akan sangat mungkin terjadi, begitupun rencana hidup. Oleh karena itu, tidak berhak bagi saya untuk melakukan judgement terhadap orang-orang tertentu dan apapun yang mereka lakukan. Saling mengerti dan memahami adalah poin penting yang harus dimiliki.

***

Itulah beberapa hikmah yang saya alami, rasakan dan resapi selama masa pengangguran. Memang masa ini terasa tidak enak sekali tetapi dibalik setiap kesulitan tentunya ada kemudahan, bukan? Berarti sama juga dengan dibalik setiap segala sesuatu yang tidak menyenangkan tentu akan ada hikmah yang dapat diambil. Terus semangat dan jangan mudah putus asa. Fighting! :)

Jadi, Mengapa Kamu Masih Galau?

Saya percaya, kehidupan yang enak dan lancar tidak selamanya nikmat tapi mungkin sebuah cobaan terbesar, apakah kita masih mengingat Dia atau hanya mengingatnya di kala susah dan sedih.

Hampir 2 tahun belakangan ini ada istilah baru untuk menggambarkan keadaan diri yang tidak terkendali dan sulit untuk diidentifikasi yaitu, Galau. Mulai dari bingung mau ngapain, sampai perasaan ga jelas, semua terangkum dalam satu kata, Galau -_-*

Yahh, saya sering juga sih pakai kata ‘galau‘ dalam segala aspek kehidupan. Mulai dari galau masalah percintaan sampai galau ga jelas bingung mau ngapain gara-gara lihat cowok ganteng #eh. Paling epik sih saat masa skripsi kemarin, saya menciptakan satu kata baru yang berasal dari galau yaitu, GaMiS = Galau Mikirin Skripsi :D

Ah iya, back to topic. Perasaan galau itu mulai ngeselin kalau udah bikin depresi. Awalnya sih kita bingung mau ngapain ya, ga ada kerjaan gitu. Trus, tiba-tiba kepikiran nasib pengangguran, apply sana-sini, panggilan kemana-mana tapi belum juga bekerja, lama-lama jadi stress sendiri, “Gue kurang apa sih? Kenapa ga ada perusahaan yang mau terima gue. Kayaknya emang bener deh nih, gue sampah masyarakat, sampah dunia…” trus, ambil tali, trus ….

Aiiih lebay abis. Cuma gara-gara bingung mau ngapain di mix sama nasib nelangsa pengangguran, kita bisa pindah dunia??!? Eh jangan salah lho, mungkin memang ga se-ekstrim sampe pindah dunia tapi minimal perasaanmu akan jungkir balik tidak bisa kamu kendalikan sampai kamu sendiri bingung, “Kenapa gue begini ya?”

Iyaa, kenapa? Kenapa kamu galau?

Sekarang, coba kita pelajari perlahan. Galau itu berawal dari kekosongan yang digiring menuju efek negatif. Semua akan terasa sakit dan sedih, kamu orang paling sengsara se-dunia. Itulah akibatnya. Gimana kalau kita tuntun kekosongan itu menuju sisi positif? Diawali dengan rasa bersyukur. Sadar atau tidak, berbagai bentuk penyesalan adalah hasil dari kurangnya rasa bersyukur. Sedikit dan perlahan coba kita syukuri segala hal se-simple apapun itu.

Setelah itu, lihatlah ke bawah, jangan lihat ke atas terus. Lihat ke atas itu capek dan pegal, bikin kesel pula. Kalau lihat ke bawah itu rasanya hati ini lapang, penuh syukur atas segala nikmat yang diberikan. Kalau keadaan yang ada sekarang tidak seiring dengan keinginan, cuma ada satu solusi, sabar. Klise, ya? Memang, karena itulah jurusnya. Semua akan indah pada waktunya, bukan?

Lalu, jika pada akhirnya keadaan benar-benar tidak sesuai dengan keinginan kita, bagaimana? Hanya satu jurus, ikhlas. Dengan ikhlas, perjuangan yang maksimal itu tidak akan terlihat sia-sia. Terakhir adalah selalu berpikir dan berprasangka positif. Jika negatif diberi efek negatif, maka dia akan saling bertolak dan tidak menghasilkan apapun. Nah, jika efek negatif dilawan dengan positif, maka akan timbul hasil yang menyembuhkan.

Hidup ini indah, hanya dari sisi mana saja kita melihatnya. Jadi, mengapa kamu masih galau? :)

Mood Changemaker

Maukah kita berubah? Jika ternyata tidak,

semua jurus akan menjadi sia-sia

Sebagai seorang Gemini si Moody-Girl, mood benar-benar sangat mudah untuk berubah. Dulu, saya selalu mengikuti kemana mood membawa saya. Jika tiba-tiba saya sedih, maka saya akan benar-benar sedih. Jika senang, maka akan sangaaatt senang. Anehnya, semua itu dapat berubah dalam waktu yang sangat singkat. Sekejap saja.

Pengalaman hidup menuntun saya untuk dapat mengendalikan mood. Capek dong kalau kita harus mengikuti mood terus, ya kan?

Apalagi masa pengangguran kayak begini, yaa… rasanya semua salah, deh. Serba sensitif. Males ketemu banyak orang karena pasti ditanya, “Kerja dimana?“. Belum lagi kalau janjian ketemua dengan teman-teman yang sudah bekerja, makan hati banget.

Nah, di bawah ini ada beberapa jurus dari saya, seorang Gemini, yang berhasil saya terapkan untuk melewati Moody-Moment. Semoga saja beberapa jurus ini dapat diterapkan saat mood sedang berantakan karena stress, panik dan galau karena label pengangguran.

1. Menyendiri
Kalau kamu lagi mooodddyyyy banget, pengennya nangis atau marah melulu, mendingan menyendiri dulu, deh. Kurung diri di kamar, tenangkan diri, kalau perlu bobo dulu sampai puas. Ga asik kan klo kita berantem atau galau ga jelas di depan orang lain cuma gara-gara mood kita yang berantakan?
Orang lain ga perlu tau semua yang kita rasakan. Jaga image sedikit lah, malu juga kan kalau nangis atau ngamuk di depan gebetan :p

2. Menyibukkan diri
Yahh kalau sendirian bikin mood kamu mellow galauw marsmallow, mendingan rame-rame aja deh. Gabung diskusi, ngobrol santai atau ngegossip sama teman-teman bakal bikin mood ga jelas kamu itu pergi. Begitu selesai, pasti kamu akan merasa aneh, “kok tadi gue sedih-sedih gitu kenapa ya? Padahal gue happy banget kok”
Sibuk membuat kita lupa dengan kesedihan. Sibuk juga akan meningkatkan semangat kita bila kita sedang senang.

3. Nonton film sambil makan snack
Wahhh ini benar-benar jurus paling manjur deh kalau lagi moody banget. Mood naik turun ga jelas, tetapi cuma berkisar antara depresi dan galau. Ngumpul-ngumpul sama temen juga udah ga ngaruh, tidur juga udah kebanyakan. Nah, yaudah deh, obat kamu cuma nonton film sambil makan snack. Biasanya sih pilihan snack itu bisa chips, ice cream atau makanan berat seperti pizza atau spaghetti, apapun yang sesuai keinginanmu.

Eits, jangan nonton film yang sembarangan, yaa.. Tonton film yang bisa membangkitkan semangat kamu. Boleh bertema kemanusiaan, kehidupan sehari-hari, pengembangan diri ataupun tentang tokoh terkenal yang inspiratif. Jangan merasa bahwa film dengan tema tersebut terasa berat dan tidak sesuai dengan keadaan mood kita yang berantakan. Sebenarnya film dengan tema membangun jiwa pun banyak terselip di film box office Hollywood. Asal jeli mencari dan menelaah, pasti akan ketemu film yang luar biasa inspiratif dan membuat kita penuh rasa syukur.

Bisa juga kok nonton film yang menghibur, ga ada yang melarang. Hal yang terpenting adalah film tersebut bisa membuat kamu merasa terhibur sehingga mood kamu membaik dan semangat kamu kembali lagi.

4. Dengarkan musik, nyanyi atau karaoke
Teriak itu adalah salah satu pelampiasan kekesalan atau kesedihan. Tapi, hari gini, mau teriak-teriak dimana..? Lebih baik lampiaskan hasrat teriakmu ke nyanyi di kamar atau karaoke. Diawali dengan memilih lagu-lagu yang tepat, dengarkan dengan seksama, hayati lalu nyanyikan! Dalam sekejap hilang sudah semua mood tidak menyenangkan.

Pemilihan lagu sangat berpengaruh lho. Kalau memang kamu mau mengeluarkan semua emosi dan memperbaiki mood dengan menangis, pilih lagu-lagu mellow yang mendayu-dayu mengiris hati. Tetapi, kalau kamu udah capek sama mood galau, mau happy aja, pilih lagu pop dengan beat cepat atau kalau memang kamu mau, pilih lagu rock.

5. Ikhlas
Ini adalah jurus paling ampuh untuk menyingkirkan para mood menyebalkan. Ikhlas saja, semua pasti terlewati, semua pasti ada jalan keluarnya. Ga perlu lah kita terus berlarut-larut dalam satu masalah karena mood kita belum baik, padahal mungkin masalahnya sendiri sudah selesai. Mengapa hal itu terjadi? Karena kita belum ikhlas. Santai, tenang, rileks, pasti mood jelek akan berubah menjadi baik. Semangat terus!

***

Nah, itulah 5 jurus dari saya, seorang Gemini Moody-Girl dalam menghadapi dan melawan Moody-Moment. Intinya sih kembali ke diri kita sendiri. Kalau semua jurus sudah dilakukan tetapi moody tetap merajalela, pertanyaannya ada pada diri kita. Maukah kita berubah? Jika ternyata tidak, semua jurus akan menjadi sia-sia.

Nothing To Lose

I am a young woman with a usual mobile phone

Maybe, I’m such a very “old school” person with a very “high technology” resolution.

The realities that I have are not aligning with the dreams.

Yes, I do not have Smartphone.

Ini juga yang menjadi kendala saat harus berhubungan dengan banyak orang. Saya tidak memiliki akses semudah dan secepat itu ke dunia maya.

 

Bagi PIN BB dong..

PIN-nya berapa?

Chat YM aja, yuk?

Ada yang mau diomongin nih, janjian Skype yuk?

Email? hmm… kok jadul banget ya..

Sekarang bukan jamannya email lagi tau..

 

Yah, seperti itulah.

It’s me. The problem is me. I’m sorry. Ketika kesempatan itu datang, ketika pintu itu terbuka, hanya karena hal seperti koneksi internet bahkan smartphone membuatku terpaksa menutup sendiri pintu itu.

Oke, saya terima.

But, hey, apakah kamu lupa dengan satu kata, NIAT ?

Jika memang kamu, saya, kita, begitu niat untuk menyampaikannya dan saling memberi kesempatan untuk maju juga berjuang bersama-sama, hal “kecil” seperti koneksi internet ataupun smartphone pun lewat. Mereka hanya batu kerikil di kehidupan kita. Ditendang sedikiiiiiittt saja, WHOOOSSAAAHHH !!! Hilang entah kemana. Am I right?

Thomas Alva Edison aja mesti melakukan percobaan 999 kali dulu sebelum menemukan lampu yang kita miliki sekarang. Dihina, dijatuhkan dan dianggap gagal adalah makanan sehari-hari Edison. Dengan teknologi yang tidak seperti sekarang, no internet connection – no smartphone, Edison tetap terus berjuang hingga menemukan lampu dan banyak penemuan lainnya.

So, kalau memang kamu niat untuk bersama  mewujudkan mimpi kita, perlukah koneksi internet dan smartphone?

Because, this is me.

I am a young woman with a usual mobile phone, a very low internet connection and only active at fb-twitter-email.

No PIN BB

No YM, Skype

………….

Nothing to Lose

PS. Today, I do have Whatsapp, LINE, KakaoTalk, Blackberry, Skype, YM, MSN, Gtalk ~ Yippie

Ekspektasi

High expectation? No worries!

Ada satu hal yang lebih memabukkan dari ekstasi yaitu, EKSPEKTASI.

Benar, kan? Setuju?

Ekspektasi itu mudah sekali diberikan terutama kepada orang-orang terdekat kita. Pemberian ekspektasi terjadi karena sudah adanya ikatan kepercayaan. Aku-kamu, saya-anda, kita sudah saling percaya.

Begitu mudahnya ekspektasi diberikan, sesungguhnya itu seiring dengan pemberian seluruh kepercayaan kita. Sehingga kita sudah yakin bahwa apapun yang mereka lakukan akan sesuai benar dengan keinginan kita. Seolah-olah pemikirannya sejalan dan searah.

Namun, satu hal yang tidak kita sadari saat mabuk adalah semua pemikiran kita hanya ilusi. Halusinasi. Belum tentu kenyataannya pun begitu.

Lalu, saat kita sadar, BRUUUKK !!

Ekspektasi menjatuhkan kita dari tempat tertinggi. Begitu mudahnya kepercayaab itu disia-siakan. Saya juga sering mendengar sebuah qoute mengenai ekspektasi,

“Jangan taruh harapanmu terlalu tinggi, biar nanti tidak terlalu sakit saat terjatuh..“

I think, sometimes, the quote is true. But, most of time, it isn’t.

I mean, sebete-betenya saya, seberapa kesalnya saya kepada mereka yang telah menghancurkan ekspektasi saya, menyia-nyiakan kepercayaan saya dan menjatuhkan saya dari tempat tertinggi itu has nothing to do with the business.

Setting untuk tingkat ekspektasi itu saya sendiri yang tentukan dan tentunya mereka tidak tahu, dong. Jadi wajar saja bagi mereka untuk dengan mudah melakukan hal itu.

Kalau dibilang mereka yang salah, yahh… tidak juga.

Jadi, mereka benar? hmm… tentu tidak.

Semua kembali kepada diri sendiri.

Saya sering terjatuh dari ekspektasi yang memabukkan itu tapi tidak menutup kemungkinan bahwa saya pernah menjatuhkan orang lain.

Okay, fair enough.

Jika kita sudah sangat mengetahui bahwa ekspektasi itu begitu memabukkan dan ketika jatuh sangat menyakitkan, perlukan kita menghindarinya?

I don’t think so.

“Gantungkan cita-citamu setinggi bintang di langit“

It is okay  untuk menangis saat terjatuh, kita memang butuh waktu untuk menenagkan diri. Tetapi, akan menjadi tidak baik jika kita terus menangis dan tidak berjuang untuk bangkit.

High expectation? No worries!

Korean Wave vs Indonesian Wave

Korean Wave atau Korean Hallyu parah. Terlalu parah. Makin membanjir di Indonesia seiring dengan banyak promotor baru yang mau mendatangkan mereka.. Lama-kelamaan sisi kreatif anak muda Indonesia bisa terkikis dan hilang. Begitu juga identitas diri, bisa tergerus perlahan…

Perilaku konsumtif pun meningkat. Pertimbangan keuangan jadi nomor sekian dan hanya sesaat. Haduh… abis deh. Ga ada tabungan masa depan :(

Tetapi, berbagai aspek dari Korean Wave, terutama konser, itu hiburan. Setelah macet, penat, negara carut marut, pemimpin ga amanat, grup musik plagiat, aahh mending nonton konser biar semangat! Betul apa betul? :D

Daripada galau-berkepanjangan-bingung-nyari-duit-buat-nonton-konser, fokus ibadah dulu aja… Inget woiii, ini MASIH bulan Ramadhan woiii!!!

Justru yaa, tau ga sih, banyak orang Korea Selatan yang ga tau bahwa Korean Wave itu udah menyebar banget di Indonesia. Mereka kaget dan menganggapnya aneh!

Mereka heran dengan banyaknya warga Indonesia, terutama kaum muda-mudi apalagi putri, ngerti banget sama Korea Selatan, sampai-sampai mengira kalau kita semua ini spy (mata-mata) yang dikirimkan oleh Korea Utara :))

By the way yaaa, daripada jadi k-popers, mendingan jadi k-dramaers. Artisnya jarang dateng ke Indonesia kan? Hampir ga pernah! Seajuh ini yang datang Cuma Lee Dong Wook, Hyun Bin. siapa lagi yaaa?? Saking jarangnya sampai lupa :D

Aman banget, kan.. ga bakal stress terus kayak sekarang ini, banyak konser tapi uang tiris hihi.. itu sih saran dari saya yang sudah 12 tahun jadi penggemar k-drama ;)

Overall, yang paling penting sih, jadi diri kita sendiri. Korea Selatan itu sak cuprit tapi wabahnya mendunia. Indonesia sak gaban tapi kena wabah mulu. Beda tipis lah yaaa…

Besar Korea Selatan itu ga ada apa-apanya dibandingkan Indonesia. Jika kamu menarik garis lurus dari Sabang sampai Merauke, panjang garis tersebut sama seperti panjang London sampai Teheran!!! Gilaaaakk! Panjang banget, kan??!?!?!

Oleh karena itu, ga bisa kah kita membuat sesuatu yang mewabah seperti Korean Wave? Sesuatu yang ga plagiat, sesuatu yang beda, sesuatu yang lebih kreatif dan mengurangi perilaku konsumtif? Bisa bangeeetttt!!! Yang setuju, angkat tangaaannn!!!

Nah… hayuklah kita buat wabah itu! Korean Wave pun akan terkena tsunami dari Indonesian Wave!

Jadiii, masihkah mau menonton konser wahai para k-popers??? *merasa salah nanya*

Ketika Cinta Bertepuk Sebelah Tangan

Semua kesalahan adalah dari saya, dan mungkin kamu, semoga kita bisa sama-sama saling instropeksi diri

Saya pernah mengikuti seminar Enterpreneurship dengan Iim Fahima sebagai salah satu pembicara. Beliau berkata bahwa mencari partner usaha itu seperti mencari jodoh karena, bisnis itu seperti pernikahan. Saya selalu ingat pesan itu. Ternyata mbak Iim Fahima benar, saya mengalaminya.

Semua berawal ketika saya hendak membangun usaha sendiri. Saya sudah siapkan beberapa ide dan sebisa mungkin menuangkannya dalam business plan. Saya pilih satu ide sebagai langkah awal. Ide ini membutuhkan banyak SDM dan saya memang berniat untuk mengajak teman-teman untuk bergabung.

Beberapa teman sudah saya hubungi. Tiga orang temen berhasil saya beri penjelasan. Pada saat itu juga mereka merasa tertarik dan setuju untuk bergabung. Dari percakapan kami, didapat persetujuan bahwa dua orang nantinya mungkin akan berbeda visi. Mereka lebih memiliki cita-cita sebagai karyawan. Namun, sebelum cita-cita mereka tercapai, mereka memiliki keyakinan untuk sama-sama membangun usaha ini.

Saya pun merencanakan pertemuan selanjutnya. Saya tanyakan kepada tiga teman saya tersebut kapan waktu yang sesuai. Agar semua bisa datang, usaha pun segera berjalan. Disetujui waktu kira-kira lima hari setelah pertemuan pertama.

Sampai di rumah, saya update keadaan via email kepada semua teman-teman yang ingin saya ajak untuk bergabung. Tiga teman yang telah mendapatkan penjelasan pun saya kirimkan email sebagai bagian dari proses refreshment. Dalam email tersebut saya memberitahukan tentang garis besar usaha disertai attachment executive summary, isi pertemuan pertama dan informasi pertemuan selanjutnya. Saya juga meminta konfirmasi kedatangan mereka pada pertemuan selanjutnya.

Saya berharap dengan adanya waktu kurang lebih lima hari sampai pertemuan selanjutnya, teman-teman dapat meminta ijin orang tua, mengosongkan jadwal dan menjadikannya sebagai prioritas. Saya juga menginformasikan bahwa bila tidak dapat hadir, alangkah baiknya bila dapat memberitahu dengan tidak mendadak.

Total teman yang saya kirimkan email adalah enam orang. Tiga orang telah saya beri penjelasan, tiga orang belum. Sayangnya, dari enam orang teman, yang memberi tanggapan hanya satu orang. Dia pun sudah memiliki usaha sendiri tetapi sangat tertarik untuk bergabung. Bahkan dia berencana untuk mengikuti pertemuan selanjutnya via skype. Saya sangat tersanjung dan benar-benar menghargai niat baiknya.

Tiga orang yang telah saya beri penjelasan, saya asumsikan telah mengerti, jelas dan pastinya bisa datang pada pertemuan selanjutnya. Tinggal sisa dua orang, mereka tidak kunjung memberi tanggapan.

Saya menunggu tanggapan, jawaban ataupun pendapat mereka. Saya selalu bersedia dihubungi baik secara online ataupun offline. Sampai satu hari sebelum pertemuan, dua teman saya tersebut belum juga memberi tanggapan. Saya asumsikan mereka bersedia untuk bergabung dan bisa datang pada pertemuan selanjutnya.

Malam hari sebelum pertemuan selanjutnya, saya memberikan reminder kepada teman-teman melalui twitter. Malam-malam, dengan harapan semua memberi tanggapan positif dan siap untuk mendapat penjelasan.

Pagi hari pertemuan selanjutnya, empat orang teman saya berkata bahwa mereka tidak bisa datang. Dua orang diantara mereka adalah teman-teman yang sudah mendapat penjelasan, sama-sama menjadwalka pertemuan selanjutnya ini dan telah berjanji untik datang. Tetapi, Insya Allah mereka semua akan hadir pada pertemuan selanjutnya nanti di kemudian hari, entah kapan.

Jujur, saya shock. Saya telah berharap banyak dengan tingkat harapan yang sangat tinggi. Kalaupun mereka tidak bergabung, setidaknya mereka telah mendengar penjelasan saya.

Saya pun sudah menginformasikan bahwa jika berhalangan hadir, alangkah baiknya dapat memberitahu dengan tidak mendadak. Ataukah mungkin mereka tidak bisa datang karena tidak tertarik? Karena tidak ingin bergabung? Saya tidak tahu. Tidak ada tanggapan ataupun penolakan yang saya terima sejak email pemberitahuan saya kirimkan.

Dari tiga orang teman saya mendapat persetujuan untuk bergabung dan datang di pertemuan pertama. Dua orang teman tidak menyampaikan apapun ke saya. Seperti yang saya tulis sebelumnya, saya berasumsi bahwa mereka bersedia untuk bergabung dan bisa datang pada pertemuan selanjutnya. Lalu, bagaimana bisa saya rela mendapat penolakan seperti itu?

Akhirnya saya sampaikan pada mereka bahwa pertemuan ini bukan untuk main-main, ada tujuan yang ingin dicapai dan seharusnya, jika ingin bergabung, bisa menjadikan pertemuan ini sebagai prioritas. Kalau memang mereka tidak ingin bergabung, segera sampaikan sekarang ke saya. Jangan buang waktu lebih banyak lagi. Dengan begitu kita tidak akan sama-sama membuang-buang waktu.

Saya ingin usaha ini segera berjalan, agar dapat segera memberikan manfaat bagi semua baik secara keuangan ataupun kemapanan. Itu adalah alasan saya, mengapa saya ingin segera mendapat komitmen dan kejelasan.

Dan, tak disangka, jawaban datang bertubi-tubi. Semua merasa benar. Semua berargumen. Tunggu dulu, kenapa semua terlihat marah?

Saya kirimkan lagi email baru yang berisi pendapat saya mengenai gagalnya pertemuan hari ini. Tujuan saya, harapan saya dan keinginan saya untuk mendapat komitmen dan kejelasan mereka. Lucunya, entah mengapa saya merasa bahwa email saya yang satu ini pasti akan mendapat banyak balasan.

Benar saja, banyak membalas. Semua berargumen, menasehati saya dan menyampaikan ketidaksetujuannya untuk bergabung. Saya baca balasan email sambil tarik-buang napas.

Ada yang berkata seharusnya saya tidak asal menuduh dengan mengatakan bahwa pertemuan ini tidak menjadi prioritas mereka. Pertemuan ini adalah prioritas bagi mereka tetapi sayangnya ada prioritas lain yang lebih penting. Pertanyaannya adalah, bagaimana saya tahu? Tidak ada informasi yang sampai pada saya. Tidak ada pula diskusi diantara kita untuk mengkoordinasikan prioritas-prioritasnya agar saling seiring sejalan dan tidak mengorbankan usaha.

Ada lagi yang berpendapat bahwa saya terlalu mengungkapkan pendapat tanpa berpikir terlebih dahulu. Langsung menyerang tanpa mengerti keadaan mereka. Lagi, bagaimana saya tahu? Selama lima hari saya menunggu, tidak ada tanggapan dan masukan. Sangat wajar bagi saya untuk memiliki kesimpulan sendiri dan mengungkapkan pendapat saya se-gamblang mungkin.

Tetapi ada juga yang to the point, dengan jujur mengakui kekurangannya, dengan jujur menyampaikan bahwa dia tidak bisa mengambil semua kesempatan. Akhirnya, usaha inilah yang menjadi korban meskipun dia sangat tertarik untuk terus bergabung. Saya sangat menghargainya. Terutama cara penyampaiannya.

Pada akhirnya, semua berkesimpulan untuk tidak bergabung. Beberapa setelah berargumen panjang, terkadang ada instropeksi, tak jarang pula memojokkan saya. Satu hal yang saya syukuri, Alhamdulillah saya mendapat kejelasan. Dengan begini saya tidak perlu berharapa terlalu banyak dan tinggi lagi.

Pertemuan tetap berjalan bersama satu orang teman yang sejak awal memang sangat tertarik dan ingin bergabung. Pertemuan diawali dengan instropeksi diri saya dengan meminta pendapatnya. Dia berkata bahwa dilihat dari email beserta balasan-balasannya, semua mau menang sendiri, termasuk saya. Tetapi, dia berpendapat bahwa, logika saya benar. Penyampaian saya benar. Semua yang saya lakukan sudah benar. Hanya orang lain saja yang menangkapnya dengan persepsi berbeda.

Saya tidak tahu mana yang benar atau salah. Saya hanya tahu bahwa saya telah mendapat kepastian akan kelanjutan usaha ini. Juga, pelajaran penting dari keadaan ini.

Lucunya, hasil pertemuannya adalah kami berdua dengan mudahnya merubah bentuk usaha. Rencana usaha awal yang direncanakan untuk dibicarakan bersama-sama tersebut, dengan mudahnya kami ganti dengan usaha lain yang tidak terlalu membutuhkan banyak SDM.

Kami berdua tertawa. Ini terlalu lucu. Pagi tadi, penuh dengan berbagai argumen tentang jalannya usaha A dengan hasil bergugurannya para calon partner. Tetapi, ironisnya, pertemuan diakhiri dengan persetujuan untuk lebih fokus ke usaha B.

Saya jadi ingin bertanya kepada mereka yang tidak ingin bergabung, apakah setelah mengetahui tentang usaha B mereka menyesali keputusannya? :p

Hasil tersebut menunjukkan bahwa bukan seberapa tertariknya kita terhadap tipe usaha untuk memiliki usaha sendiri tetapi seberapa besar keinginan kita untuk menciptakan usaha sendiri.

Seperti yang disampaikan Rasulullah SAW, bahwa dari 10 pintu rizki, 9 pintu berasal dari perniagaan. Mengapa kita tidak mengambil kesempatan tersebut?

At least, saya minta maaf sebesar-besarnya apabila ada hati yang tersakiti, ada tindakan yang tidak diridhoi dan ada kata-kata yang sulit dipahami. Insya Allah, dengan ikhlas menyerahkan semuanya pada Allah SWT, saya telah memaafkan seluruh pihak yang mungkin tanpa sengaja ataupun tidak, sempat membuat hati sakit dan air mata jatuh.

Semua yang baik datangnya dari Allah SWT dan semoga dapat memberi manfaat. Semua kesalahan adalah dari saya, dan mungkin kamu, semoga kita bisa sama-sama saling instropeksi diri.

PS: Jika ada pendapat yang ingin disampaikan, lebih baik tidak melalui tulisan. Saya bersedia untuk bertemu tatap muka, agar tidak ada lagi kesalahpahaman.

Pengangguran Kreatif

Jadilah, PENGANGGURAN KREATIF!

Suatu saat, di waktu hampir 6 bulan dari kelulusan saya dan masih juga belum mendapatkan kerja, saya sempat tweet begini:

Dapet label pengangguran lebih menyakitkan dibanding label jomblo. Gw tahan 22 tahun jomblo tapi 6 bulan pengangguran itu rasanya… sakit.

Bukan karena hinaannya, bukan karena sindirannya tapi karena pertanyaan dan tatapannya.. apakah seorang pengangguran seburuk itu?

Memang tidak officially bekerja tetapi bukan berarti tidak menghasilkan sesuatu atau bahkan tidak memikirkan sesuatu. I promise, I will do something.. I do. You’ll see.

Dan, inilah janji saya. Buku ini dan berbagai tulisannya adalah bukti dari janji saya. Pengangguran bukanlah awal dari kehancuran. Pengangguran bukanlah akhir dari masa kejayaan saat menjadi mahasiswa. Saat menjadi pengangguran sebenarnya kita diberi waktu untuk berpikir tentang apa yang sesungguhnya kita inginkan juga butuhkan dalam hidup.

Fase “sekolah” selama 12 tahun ditambah 4 tahun saat kuliah terkadang malah membuat otak dan ritme kehidupan kita menjadi “terbiasa”. Kita terbiasa untuk lanjut ke SMP setelah SD, terbiasa untuk lanjut ke SMA setelah SMP dan terbiasa untuk kuliah setelah SMA.

Mungkinkah, terkadang, sebentar saja, kita berpikir apa yang sebenarnya kita inginkan. Kalau bahasa kerennya, Passion. Pernahkan saat SMP kita berpikir untuk masuk SMK ataupun melakukan hal lain selain SMA? Pernahkah saat SMA kita menganalisa bahwa ternyata kita belum siap untuk menjadi mahasiswa dan lebih baik bekerja?

“Kebiasaan” yang secara tidak langsung tertanam akibat “pembiasaan” membuat kita tidak berani untuk berbeda, tidak berani untuk berubah. Perbedaan dan perubahan terkadang menjadikan kita dikucilkan sehingga membuat kita takut. Padahal, mungkin saja kalau kita sempat memikirkan potensi, kesempatan dan keadaan lainnya sebentar saja, kehidupan kita pun akan berubah selamanya. Menjadi lebih bahagia, fokus, terarah dan bertanggung jawab. Kehidupan yang kita jalani dapat sesuai dengan keinginan kita, passion kita.

Kebiasaan yang ada dalam ritme kehidupan “sekolah” membawa saya kepada penyelesaian kuliah yang biasa-biasa saja. Datar. Begitu wisuda, saya merasa terbebas dari tekanan “sekolah” dan “belajar”. Kalau ingin menyalahkan disi saya sendiri, orang tua ataupun guru saya, rasanya tidak ada yang patut ditimpakan kesalahan. Saya dan orang tua juga semua guru saya pasti sudah mencoba untuk memberikan yang terbaik. Hanya saja, terkadang yang kita inginkan itu berbeda dengan yang kita butuhkan. Mungkin karena rasa “bebas“ itulah sampai saat ini label pengangguran masih melekat pada diri saya.

Seperti yang saya sampaikan sebelumnya, terkadang yang kita inginkan itu berbeda dengan yang kita butuhkan, mungkin saja bekerja kantoran adalah yang saya inginkan tetapi sesungguhnya yang saya butuhkan adalah waktu. Ya, benar, waktu.

Masa pengangguran yang begitu lama ini menuntun saya untuk banyak berpikir. Lepasnya saya dari ritme kehidupan “sekolah“ membuat saya berhak untuk menentukan sendiri apa yang saya inginkan dan yang sebenarnya saya butuhkan. Saya memulai semua proses berpikir tersebut dengan banyak membaca, jauh lebih banyak dari sebelumnya. Saya coba untuk ikut dalam berbagai seminar untuk membuka pikiran dan menambah wawasan. Saya join berbagai komunitas untuk menambah ilmu sekaligus jaringan.

Masa pengangguran juga saya manfaatkan untuk mengembangkan hobi favorit saya yang mungkin saja adalah potensi terbesar yang saya miliki saat ini yaitu, menulis. Dimulai dari aktif menulis blog, meskipun saya juga sudah menulis di blog tersebut sejak 2 tahun terakhir. Berani untuk ikut berbagai lomba menulis dan proyek buku bersama. Hasil optimal menulis telah saya buktikan sendiri. Saya menjadi salah satu pemenang dengan hadiah dinner eksklusif bersama Muhammad Assad, banyak buku hasil proyek buku bersama dan punya buku hasil karya saya sendiri J

Saya pun mulai mencoba untuk berani memulai bisnis kecil-kecilan, baik sendiri ataupun bersama teman. Berani mengungkapkan ide dan bijaksana menerima usulan ataupun kritik. Berani untuk bermimpi setinggi dan sebesar mungkin.

Hingga, saya sampai pada suatu titik bahwa pengangguran dalah waktu  yang berharga. Cobalah untuk berpikir “beda“ dan “out-of-the-box“. Lihatlah sesuatu dari berbagai sisi, bukan hanya dari satu sisi saja. Beranilah untuk mengambil keputusan sendiri, bukan karena orang lain, bukan dipengaruhi orang lain.

Pengangguran adalah waktu untuk berpikir. Mencari apa yang sesugguhnya dibutuhkan bukan sekedar diinginkan. Berpikir sendiri, selami diri sedalam mungkin. Jangan takut untuk bertindak, jangan takut untuk jatuh. Resiko? Itu adalah tantangan. Halangan? Itulah bagian dari perjalanan.

Pengangguran adalah waktu untuk berkarya. Sebelumnya hanya berkarya “akibat“ tugas, sekarang saatnya berkarya yang sesungguhnya. Gali potensi diri dan maksimalkan. Perkataan orang lain janganlah dipedulikan karena bukti lebih penting dari sekedar jawaban.

Jadilah, PENGANGGURAN KREATIF!

Sesungguhnya, pengangguran kreatif jauh lebih positif dibandingkan hanya karyawan kantoran biasa. Pengangguran kreatif lebih inovatif dibandingkan apply lamaran kerja kemana-mana. Pengangguran kreatif menciptakan diri terbaik dari diri sendiri karena mengikuti passion. Memberikan apa yang dibutuhkan bukan sekedar diinginkan. Find your passion, write your own destiny!

Benteng Pertahanan

Ketika sukses telah menghampiri, semua orang pun akan merasa senang dan bangga!

Benteng adalah bangunan yang ditujukan untuk melindungi segala sesuatu yang ada didalamnya dari berbagai macam bentuk serangan. Pertahanan adalah cara yang digunakan untuk membuat menjadi tetap utuh, selamat dan lolos dari pertempuran. Lalu, mengapa ‘benteng pertahanan’?

Benteng pertahanan adalah kiasan yang saya berikan untuk menggambarkan segala sesuatu yang membuat kita tetap di tempat. Ada keinginan untuk maju tetapi tertahan. Entah karena apa atau siapa, keinginan untuk maju itu hangus begitu saja hanya karena satu, tertahan.

Banyak yang menyalahkan lingkungan sekitar yang tidak mendukung sehingga impiannya tertahan dan dia terpaksa melepasnya. Bahkan, tak sedikit pula yang menyalahkan orang lain atas kemalangan dirinya.

“Gara-gara ga boleh mama, gw ga jadi gabung usaha bareng teman-teman.. padahal itu impian gw” atau “Bokap bilang kalau jadi PNS itu asik, jadi gw ada disini sekarang.. padahal gw mau jadi business man..”

Kayaknya kenal ya sama dia? Siapa? Oh, itu kamu. Tenang aja, kamu ga sendiri. Banyak banget orang yang sibuk menyalahkan dunia luar padahal masalah terbesar adalah dirinya sendiri.

Ya betul, benteng pertahanan terkuat adalah diri kita sendiri. Diawali dari rasa takut, lanjut menjadi tidak percaya diri kemudian akut menjadi penurut. Kita dibutakan oleh logika-logika pertahanan diri yang membuat kita tidak bisa maju.

Kesuksesan itu mungkin tidak diawali dengan indah tetapi hanya orang yang berani mendobrak benteng pertahanan diri mereka sendiri dan melawan sekuat tenaga-lah yang akan menang.

Hidup ini kita sendiri yang menjalani dan merasakan. Benteng pertahanan ini kita sendiri yang membuat dan memiliki kuncinya. Maju dan berjuanglah menggapai semua yang kita cita-citakan. Orang lain tak perlu tahu seberapa keras usaha kita. Biarkan mereka berkomentar. Nanti ketika sukses telah menghampiri, semua orang pun akan merasa senang dan bangga!

Jadi, benteng pertahananmu, apakah siap untuk kamu buka?