Sarjana Galau

“Kalau memang Perusahaan ini baik bagiku dan keluargaku, tolong lancarkanlah… Kalau memang Perusahaan ini belum baik bagiku dan keluargaku, maka Engkau akan berikan yang terbaik, Ya Allah… Amin.“

Siang ini, Ayah menceritakan sesuatu,

“Kemarin Ayah lewat di depan Gedung SMESCO dan kayaknya disana lagi ada Job Fair, ya? Banyak banget cowok cewek, bajunya rapih-rapih, ngatri panjang banget di depan gedung..”

“Oh iya, aku tau, tuh. Rapih-rapih semua tapi jobless semua juga” jawab saya seperlunya.

“Iya sih, tapi mereka ada niat untuk membantu orang tuanya.”

Dan… saya cuma bisa, “………….”

Oh, okay. Saya memang belum bisa membantu perekonomian keluarga. Saya belum memiliki penghasilan tetap, Penghasilan sendiri. Mungkin memang saya pernah menghasilkan sebelumnya tetapi itu pun sesuai musim dan pesanan. Lalu, ketika itu semua berakhir, penghasilan saya pun juga berakhir.

Tahukah kamu?

Saya meng-apply kerja untuk bekerja setelah lulus itu sejak Maret 2011. Saya memiliki niat untuk setidaknya mendapatkan kontrak kerja untuk bekerja di suatu perusahaan sebelum lulus. Jadi, sewaktu lulus saya dapat langsung bekerja. Kalaupun tidak langsung, saya tidak perlu menunggu terlalu lama. Saya tidak perlu menjadi pengangguran. Saya tidak perlu menyusahkan orang tua lagi. Setidaknya, saya dapat memenuhi kebutuhan saya, sendiri.

Maret, 2011, panggilan pertama. Interview untuk sebuah perusahaan yang bergerak di bidang stock exchange. Saya diterima tetapi saya menolaknya karena perusahaan tersebut kurang sesuai dengan studi saya.

April 2011, saya mendapat panggilan untuk tes seleksi karyawan di salah satu produsen mobil. Tes yang dilakukan adalah psikotes dua kali, interview HRD lalu interview user. Setiap tahap yang dilalui adalah dengan sistem gugur. Jadi, kalau tidak lolos psikotes pertama, maka tidak dapat melanjutkan ke tahap selanjutnya. Gugur. Itulah yang terjadi kepada saya. Di tes seleksi karyawan ini, saya gugur di psikotes pertama.

Jujur saya bete banget. Banget! Masa ga lolos cuma karena psikotes, begitu pikir saya. Meskipun begitu, psikotes ini memperkenalkan saya kepada satu jenis psikotes baru yaitu, Tes Pauli. Alat tes berupa satu lembar kertas besar dan lebar yang berisi angka berderet dari atas ke bawah. Kita diharuskan menghitung angka-angka tersebut dengan pola dan proses sesuai dengan yang ditentukan oleh pembimbing tes.

Setelah mengetahui jenis tes tersebut, saya segera mempelajari dan tanya sana-sini agar dapat mengalahkannya. Saya tidak ingin gagal untuk yang ke-dua kalinya, hanya karena psikotes. Seakan-akan saya rendah banget begitu😦

Nasib berkata lain, saya harus gagal lagi. Juni 2011, tepat pada hari ulang tahun saya, psikotes dan interview HRD saya jalani di salah satu perusahaan farmasi. Saya berdo’a terus, “Ya Allah, berikanlah kesempatan saya untuk bekerja di Perusahaan ini sebagai hadiah ulang tahun untuk saya. Jika Perusahaan ini baik untuk saya, tolong lancarkanlah. Jika belum baik, berikanlah saya yang terbaik, Ya Allah.. Amin…”

Saya sangat berharap untuk dapat diterima di perusahaan itu. Lingkungannya terlihat baik, suasana kerja juga, ada fasilitas Musholla dan lokasi tidak terlalu jauh. Saat menjalani psikotes pun saya yakin sekali. Tes Pauli muncul lagi tetapi saya dapat dengan tenang mengalahkannya. Interview HRD pun sudah saya usahakan semaksimal mungkin. Tetapi, apa mau dikata, kabar saya diterima di perusahaan tersebut tidak kunjung datang sampai hari ini.

Saat bulan Ramadhan pun saya mendapat kesempatan untuk interview di sebuah perusahaan yang bergerak di bidang export-import yang berlokasi di daerah Kota. Kelihatannya, saya diterima. Tetapi, saya merasa kurang sreg dengan kondisi perusahaan tersebut dan saya sampaikan kepada orang tua hal yang mengganggu saya itu.

Melihat kondisi “luar” perusahaan, saya sempat menanyakan satu pertanyaan ke calon Pak Boss, “Pak, disini Musholla-nya dimana?”

Si calon Pak Boss ngeliatin saya dengan tampang bingung lalu berkata, “Hmm.. dimana, ya? Saya kurang tahu. Coba kamu tanyakan ke staff yang lain ya nanti. Tapi kayaknya sih di gedung ini ga ada. Kalau saya ga salah sih, saya pernah lihat ada Masjid di sebelah sana. Mungkin kamu bisa Shalat disitu.”

Oh, noooo……

Saya tidak mau bekerja di tempat yang tidak memiliki tempat ibadah yang nyaman. Akhirnya, meskipun diterima, dengan ikhlas dan berharap akan mendapatkan tempat yang terbaik, saya menolak perusahaan tersebut.

Perjalanan selanjutnya adalah salah satu perusahaan tekstil yang sebagian besar hasilnya di export ke luar negeri. Perusahaan tersebut berada di kawasan industri di daerah Cakung. Sangat jauh dari rumah. Jadwal tes jam 8 tetapi saya sudah sampai jam 07.15, pagi banget ya? hehe.. Meskipun jauh, lokasi dapat ditempuh dengan cepat melalui tol.

Pertanyaannya adalah, bagaimana kalau saya diterima dan kerja disini? Saya tinggal dimana? Dengan alat transportasi apa? Saya sudah menanyakan kepada HRD tentang shuttle bus untuk perusahaan. Biasanya, setiap perusahaan yang berada di lingkungan industri akan memiliki shuttle bus untuk membawa karyawannya dari lokasi tertentu. Ternyata, ada! Tetapi lokasi terdekat rute shuttle bus untuk sampai ke rumah saya adalah UKI. Sepertinya, kalau diterima di perusahaan tersebut, saya harus kos.

Pertama kalinya dalam pengalaman saya “bermain” di kawasan industri, Kawasan industri ini benar-benar di luar perkiraan saya. Menurut pandangan mata saya, kawasan industri ini sudah sangaaaaaattttttt tua. Banyak perusahaan yang sudah bangkrut begitu, banyak yang di gembok, banyak yang sudah rusak tak terpakai dan besar kemungkinan mereka semua terkena efek krisis moneter Indonesia tahun 1998. Lingkungannya berdebuuuuu sekali. Rasa airnya aneh, seperti asem-asin-hambar-apa gitu ga jelas, mungkin karena dekat dengan laut.

Buruh pabriknya banyak yang wanita. Saat saya datang, banyak sekali buruh pabrik keluar, sepertinya mereka mendapat jatah shift malam. Jam 8 tepat, buruh yang mendapat jatah shift pagi sudah masuk semua ke dalam pabrik dan seketika, jalanan sepi lagi. Jam 12 tepat, seluruh buruh keluar pabrik lagi, kali ini untuk makan siang. Ternyata, kebanyakan atau mungkin sebagian besar perusahaan tidak menyediakan kantin bagi para buruh di dalam lingkungan pabrik. Jadi, mereka harus keluar dan mencari makan siang sendiri.

Jadwal tes jam 8 tetapi saya baru dipanggil masuk untuk psikotes jam 10. Selesai psikotes jam 12, saya diberi kesempatan untuk makan siang gratis di kantin karyawan. Oh, ternyata karyawan disediakan kantin tetapi buruh tidak. Setelah itu saya Shalat Dzuhur. Bukan di lingkungan pabrik, melainkan di Masjid dari kawasan industri ini. Enak. Luas. Meskipun debu tetapi angin tetap sepoi-sepoi karena masih banyak pohon.

Saya dipanggil interview jam 2, saya ulangi, jam 2!! Padahal yang tes pada hari itu hanya saya dan satu orang calon karyawan lagi, jadi hanya kami berdua. Entah mengapa, waktu yang mereka butuhkan untuk mempersiapkan tes sangaaat lama. Saya ga ngerti. Interview kurang lebih 20 menit dan saya pulang.

Jujur saja, pengalaman tes kali ini tidak meninggalkan bekas apapun selain bosen karena nunggunya kelamaan. Perasaan saya selama berada di lingkungan perusahaan pun biasa saja, saya malah lebih tertarik untuk mengamati dan merekam setiap kegiatan juga suasana dari kawasan industry itu. Benar-benar menarik. Untuk hasil tesnya, bisa ditebak, saya tidak diterima. Sepertinya karena masalah gaji yang tidak sesuai, bukan karena kualitas saya J

Salah satu perusahaan international itu menarik perhatian saya, yang ditawarkan adalah posisi untuk management trainee. Ternyata, perusahaan tersebut bergerak di bidang direct sales and marketing.

Ketika mendapat kesempatan untuk interview, orang yang meng-interview saya adalah perwakilan langsung dari kantor pusat di Australia. Bule, kebapakan, lucu dan jujur, saya tertarik untuk mencoba lebih lanjut di perusahaan itu. Saya penasaran, sebenarnya mereka ini kerjanya apa karena mereka semua terlihat semangat sekali. Sore hari setelah wawancara saya langsung mendapat kabar bahwa saya lolos ke tahap selanjutnya.

Tahap selanjutnya adalah interview aktif dengan mentor tertentu dan langsung ikut terjun bekerja. Bukan benar-benar bekerja tetapi saya melihat mereka bekerja. Semacam observasi dan secara tak langsung di-interview oleh mentor.

Disini saya mulai merasa kurang nyaman, seperti bukan tempat saya. Rasanya tidak seharusnya saya berada disitu. Semua pikiran itu coba saya hilangkan dan fokus untuk mencapai target saya saat itu yaitu lolos interview kedua. Saya bukan ingin cepat-cepat bekerja atau bahkan diterima di perusahaan tetapi hanya ingin lolos dulu saja. Saya tidak ingin kepercayaan diri saya jatuh kembali karena tidak lolos proses interview.

Tak disangka, saya lolos dan langsung dijadwalkan untuk mengikuti management trainee. Saya jadi panik sendiri, waduhh.. sudah melebihi rencana, nih. Pada akhirnya saya tetap mengikuti management trainee yang diberikan dengan niat mendapatkan ilmu dan pengalaman baru. Lumayan, bisa menuntut ilmu baru secara gratis. Setelah mengikuti management trainee, saya keluar.

Meskipun saat kuliah saya belajar teknik, sesungguhnya saya sangat mencintai dunia tulis menulis juga jurnalistik. Sehingga saya tidak membunag percuma kesempatan untuk apply di perusahaan berbasis media. Saya apply di banyak sekali perusahaan berbasis media dan mendapat kesempatan untuk tes di dua tempat.

Proses seleksi dari perusahaan media yang pertama sangat melelahkan. Selama psikotes, ada tiga kali tahap saringan. Di setiap tahap diterapkan sistem gugur. Alhamdulillah, saya lolos terus sampai tahap interview HRD. Saat interview HRD, saya berusaha semaksimal mungkin dan sekali lagi, saya lolos ke tahap selanjutnya yaitu, interview user.

Empat editor senior dari media tersebut telah dipersiapkan dalam proses interview user. Kami dipanggil satu per satu dan diinterview langsung oleh mereka. Ketika saya memasuki ruangan, semua masih baik-baik saja. Begitu saya memperkenalkan diri sebagai sarjana lulusan teknik, semua selesai. Proses interview berubah menjadi ajang nasihat dari para bapak dan ibu bagi anaknya. Yahh… saya terima saja, deh. Sambil terus tersenyum, saya dengarkan semua nasihat itu. Bisa ditebak, saya tidak lolos ke tahap selanjutnya.

Pengalaman di perusahaan media selanjutnya lebih simple. Saya apply via email dan tak lama kemudian ada telpon panggilan untuk interview. Proses interview pun singkat, lebih singkat dari para calon lainnya. Sesuai perkiraan saya, proses interview berubah lagi menjadi ajang nasihat dari tiga editor senior, bapak-bapak. Yahh… mau bagaimana lagi.

Heran juga sih, kalau memang jurusan tehnik tidak boleh apply di media, kenapa mereka menulis “untuk semua jurusan”..?

Akhirnya, saya mengikhlaskan diri untuk melepas keinginan saya terjun langsung di dunia jurnalistik. Tetapi, bukan berarti saya menyerah. Saya akan tetap terus menulis dan mencoba aktif di dunia jurnalistik melalui jalan lain yaitu, internet.

Datang lagi kesempatan bagi saya untuk mengunjungi kawasan industri. Kali ini saya akan mengunjungi salah satu perusahaan di Kawasan Industri di Karawang. Kawasan industri ini masih relatif baru, pabrik-pabriknya pun memiliki gedung baru yang modern dan banyak sekali pohon sehingga memberikan suasana teduh juga asri.

Kawasan industri di Karawang ini berhadapan langsung dengan San Diego Hills, tempat pemakaman yang keren banget itu, lho… Jadi, di ujung jalannya itu kita diharuskan untuk belok kiri menuju kawasan industri atau belok kanan menuju San Diego Hills. Melihat keadaan tersebut, saya jadi leih bersemangat untuk jalan-jalan dan melihat San Diego Hills, hehehe… Tetapi, apa daya, tes masuk perusahaan adalah agenda saya.

Perusahaan ini memiliki pabrik yang luar biasa besar dan bersih. Saya kagum sekali. Semua teori yang saya pelajari mengenai pengelolaan pabrik sudah sangat teraplikasi di perusahaan ini. Saya ingin menjadi bagian dari mereka dan merasakan semua aplikasi dari teori saya selama kuliah.

Sayangnya, saya harus gagal lagi.

Banyak panggilan tes seleksi karyawan selanjutnya yang saya datangi dengan kereta. Bejubel, saling gencet dan sesak adalah hal biasa sepertinya dalam setiap jam berangkat dan pulang kerja. Saya merasa tidak kuat tetapi tidak dapat dipungkiri lagi bahwa kereta adalah alat transportasi paling efektif yang dimiliki oleh Jakarta saat ini.

Begitu banyak tes seleksi karyawan yang saya lalui baik diantar ataupun menggunakan kereta memberikan pengalaman yang luar biasa. Pengalaman yang tertulis disini hanyalah sebagian kecil dari besarnya pengalaman yang saya rasakan. Tetapi, jujur, saya tidak pernah merasa harus segera mendapatkan kerja ataupun tertekan karena label pengangguran. Saya hanya merasa bahwa mungkin memang inilah waktu saya untuk melakukan hal lain terlebih dahulu sebelum bekerja dengan ketentuan yang ketat dan pengalaman yang baru.

Seperti do’a saya selalu, “Kalau memang Perusahaan ini baik bagiku dan keluargaku, tolong lancarkanlah… Kalau memang Perusahaan ini belum baik bagiku dan keluargaku, maka Engkau akan berikan yang terbaik, Ya Allah… Amin.“

13 thoughts on “Sarjana Galau

    • Terima kasih tante, seneng banget dapet komen positif dari yg udah jago nulis😀
      Ini sebenarnya adalah kumpulan naskah untuk buku yang berjudul sama, yaitu “Sarjana Galau”. Sayangnya, belum ada penerbit yang bersedia untuk menerbitkan (selain self-publishing tentunya).

      Sejauh ini aku baru bisa nulis jenis tulisan seperti ini tante, seperti semacam cerita plus hikmah2 gitu (apa ya genrenya), seperti perjalanan hidup gitu. Tips dan trik atau saran2 gitu juga bisa, tutorial juga. Semoga akan makin berkembang terutama penulisan travelling kayak tante gitu, bisa dimuat di banyak media :p

      Seksli lagi, terima kasih untuk semua masukan dan sharingnya ya tante, salam untuk semua keluarga🙂

    • meskipun ga sengaja dan dapat nilai lumayan, terima kasih banyak untuk tanggapan positifnya🙂
      Silakan baca posting lainnya dan akan saya usahakan update terus setiap hari.
      Boleh juga lho kalau di share ke teman-teman lainnya yang mungkin memiliki problem yang sama. Terima kasih🙂

  1. halo mbak. Saya juga sempat seperti ini sih, bahkan setelah dapet kerja seperti sekarang,
    masih suka disuruh2 sama ibu buat daftar ke perusahaan lain yg gajinya lebih gede.

    Saya sih nyaman aja ama kondisi sekarang. Meskipun mungkin istilahnya comfort zone, tapi buat saya itu baik karena punya waktu luang lebih dan jadwal fleksibel, jadinya bisa mengembangkan hobi2 yg lain, hehe.

    Tiap orang kan pandangan dan tujuan hidupnya beda-beda. Demikian.

    • Betul sekali.. terkadang apa yang orang lain suka, belum tentu yang kita suka dan juga sebaliknya.. ujung-ujungnya ya tergantung apa yang kita suka, bahasa kerennya ‘passion’😀
      Semangat terus!🙂

  2. sy tertarik dgn pngalaman di perusahan medianya, mau tau dunk perusahaannya apa? sy kok jd galau bacanya.. anak tehnik yg jadi jurnalis di perusahaan media yg gede itu buanyaaakkkk bgts lho, redaktur tempo, jkt pos, kompas dll itu kbanyakan anak ITB, lho.. btw, mbak talita alumni mana? smangat trus yah, smoga sgera mraih apa yg diimpikan, amien..

    • Saya sempat dipanggil oleh Tempo dan Republika. Oh begitu ya?? kok saya langsung disudutkan begitu ya.. mungkin mereka mau memberi saran, sebenarnya..

      Saya alumni Swiss German University, jurusan Tehnik Industri. Terima kasih🙂

      Pada awalnya saya memang ingin bekerja tetapi memiliki usaha sendiri adalah mimpi saya. Alhamdulillah sekarang sudah coba usaha sendiri… semoga ke depannya diberi kelancaran.. Aamiin…

  3. Sy yakin tempo gak spicik itu lah, di tempo ada Bambang Harymurti yg notabene anak Tehnik elektro ITB dan S2 Harvard, ada GM yg lulusan psikologi UI dan S2 Belgia dan byk yg lainnya dgn talenta yg luar biasa di bid jurnalistik meski dgn latarbelakang akademis yg berbeda. Saya juga berpikir mereka sdg memberi saran agar anda memilih yg sesuai dgn kemampuan (bukan yg terukur secara akademisi) anda saja. SGU? wah, pasti mahal di ongkos tuh. btw, sbelum nerbitin scr indie, anda pernah mencoba ke PH? like mizan, gramedia, serambi dll gt? kl pernah, apa tanggapan mereka ttg tulisan anda?

    sukses buat usahanya, smoga bisa mjadi awal terbentuknya sbh perusahaan yg luar bisa CARE thd karyawannya (mushollah yg bgs, bus karyawan sesuai rute rmh para karyawan dll sesuai apa yg anda impikan ttg “perusahaan ideal”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s