Unemployed Not Jobless

Mungkin kita memang pengangguran dan terlihat doing nothing tetapi, rencana pribadi, resolusi diri, siapa yang tahu?

Banyak orang menjadi sangat menyebalkan begitu bertemu dengan seorang pengangguran. Mulai dari pertanyaan klasik-tapi-sumpah-bikin-kesel, “Kerja dimana?“ sampai muka melas-prihatin-mungkin-simpati-bahkan-empati. Tapi, semua itu bisa saya handle dengan baik. Kasih senyum sedikiiiitt saja plus tampang garing dan voila! Diem, deh! Ga bakal ditanya ataupun diliatin lagi.

Masa pengangguran yang begitu lama mungkin membuat sebagian besar orang (atau mungkin semua orang, ya…) menyimpulkan bahwa seorang pengangguran itu enggak ngapa-ngapain setiap hari. Mulailah muncul pertanyaan ngeselin selanjutnya:

“Lo ga ada kerjaan, kan? Jalan, yuk!“

“Lo kan nganggur, ikutan main sama gw, yuk!“

“Ga usah sok sibuk, lah… lo pengangguran, ya kan?!“

“Oh, masih belum kerja? Nikmatin ya masa penganggurannya!“

Ga tau kenapa, saya kesal setiap mendapat pertanyaan ngeselin versi baru itu. Mungkin maksud mereka baik ya, I know. But, somehow, kesel aja.

Menurut lo, gw ga ada kerjaan, hah?!

Enak banget ngajak gw pergi, emangnya ga pakai modal?

Pikiran seperti itulah yang selalu ada di otak dan hati saya setiap mendapat pertanyaan seperti itu. Untuk bekerja official di kantor as an employee, saya memang belum (atau mungkin tidak :p). But, I do not settle and do nothing!

Sudah sangat free membuat saya untuk mencoba mengikuti banyak seminar untuk meningkatkan kulitas pribadi dan kuantitas ilmu. Lalu, saya mulai mencari secara aktif kegiatan tulis menulis yang entah mengapa vakum karena saya kuliah di bidang teknik (fyi, saya memang suka dunia tulis menulis dan jurnalistik). Selain itu, saya juga berusaha mengoptimalkan keinginan saya untuk memiliki usaha sendiri dengan mulai merealisasikan rencana-rencana bisnis yang sudah saya catat dengan rapih.

Di sisi lain, saya memang meminimalisasi kegiatan “jalan-jalan” atau “hura-hura”. Belum punya pemasukan sendiri yang tetap dan masih meminta orang tua membuat saya berusaha semaksimal mungkin untuk efektif dan efisien setiap keluar rumah.

Sejauh ini saya keluar rumah hanya pada saat ada panggilan interview atau psikotes, seminar, silaturahmi dan bertemu teman yang berhubungan dengan proses usaha saya. Kalau untuk “happy-happy” rasanya sudah tidak atau belum waktunya. So, maaf sekali, bagi kamu-kamu yang ngajakinhappy-happy”, I am not that “free”.

Respect sedikitlah. Fyi aja, we don’t need your “prihatin” face, we just need your respect.

Mungkin kita memang pengangguran dan terlihat doing nothing tetapi, rencana pribadi, resolusi diri, siapa yang tahu?

I am unemployed not jobless.

PS. Tapi beda kasus lho ya dengan mereka yang memang sengaja menjadi pengangguran. Maksudnya, mereka memang sengaja untuk tidak mencari pekerjaan dan menikmati masa “liburan“ semaksimal mungkin. Mereka itu diluar konteks opini saya ini, ya…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s