Pengangguran Kreatif

Jadilah, PENGANGGURAN KREATIF!

Suatu saat, di waktu hampir 6 bulan dari kelulusan saya dan masih juga belum mendapatkan kerja, saya sempat tweet begini:

Dapet label pengangguran lebih menyakitkan dibanding label jomblo. Gw tahan 22 tahun jomblo tapi 6 bulan pengangguran itu rasanya… sakit.

Bukan karena hinaannya, bukan karena sindirannya tapi karena pertanyaan dan tatapannya.. apakah seorang pengangguran seburuk itu?

Memang tidak officially bekerja tetapi bukan berarti tidak menghasilkan sesuatu atau bahkan tidak memikirkan sesuatu. I promise, I will do something.. I do. You’ll see.

Dan, inilah janji saya. Buku ini dan berbagai tulisannya adalah bukti dari janji saya. Pengangguran bukanlah awal dari kehancuran. Pengangguran bukanlah akhir dari masa kejayaan saat menjadi mahasiswa. Saat menjadi pengangguran sebenarnya kita diberi waktu untuk berpikir tentang apa yang sesungguhnya kita inginkan juga butuhkan dalam hidup.

Fase “sekolah” selama 12 tahun ditambah 4 tahun saat kuliah terkadang malah membuat otak dan ritme kehidupan kita menjadi “terbiasa”. Kita terbiasa untuk lanjut ke SMP setelah SD, terbiasa untuk lanjut ke SMA setelah SMP dan terbiasa untuk kuliah setelah SMA.

Mungkinkah, terkadang, sebentar saja, kita berpikir apa yang sebenarnya kita inginkan. Kalau bahasa kerennya, Passion. Pernahkan saat SMP kita berpikir untuk masuk SMK ataupun melakukan hal lain selain SMA? Pernahkah saat SMA kita menganalisa bahwa ternyata kita belum siap untuk menjadi mahasiswa dan lebih baik bekerja?

“Kebiasaan” yang secara tidak langsung tertanam akibat “pembiasaan” membuat kita tidak berani untuk berbeda, tidak berani untuk berubah. Perbedaan dan perubahan terkadang menjadikan kita dikucilkan sehingga membuat kita takut. Padahal, mungkin saja kalau kita sempat memikirkan potensi, kesempatan dan keadaan lainnya sebentar saja, kehidupan kita pun akan berubah selamanya. Menjadi lebih bahagia, fokus, terarah dan bertanggung jawab. Kehidupan yang kita jalani dapat sesuai dengan keinginan kita, passion kita.

Kebiasaan yang ada dalam ritme kehidupan “sekolah” membawa saya kepada penyelesaian kuliah yang biasa-biasa saja. Datar. Begitu wisuda, saya merasa terbebas dari tekanan “sekolah” dan “belajar”. Kalau ingin menyalahkan disi saya sendiri, orang tua ataupun guru saya, rasanya tidak ada yang patut ditimpakan kesalahan. Saya dan orang tua juga semua guru saya pasti sudah mencoba untuk memberikan yang terbaik. Hanya saja, terkadang yang kita inginkan itu berbeda dengan yang kita butuhkan. Mungkin karena rasa “bebas“ itulah sampai saat ini label pengangguran masih melekat pada diri saya.

Seperti yang saya sampaikan sebelumnya, terkadang yang kita inginkan itu berbeda dengan yang kita butuhkan, mungkin saja bekerja kantoran adalah yang saya inginkan tetapi sesungguhnya yang saya butuhkan adalah waktu. Ya, benar, waktu.

Masa pengangguran yang begitu lama ini menuntun saya untuk banyak berpikir. Lepasnya saya dari ritme kehidupan “sekolah“ membuat saya berhak untuk menentukan sendiri apa yang saya inginkan dan yang sebenarnya saya butuhkan. Saya memulai semua proses berpikir tersebut dengan banyak membaca, jauh lebih banyak dari sebelumnya. Saya coba untuk ikut dalam berbagai seminar untuk membuka pikiran dan menambah wawasan. Saya join berbagai komunitas untuk menambah ilmu sekaligus jaringan.

Masa pengangguran juga saya manfaatkan untuk mengembangkan hobi favorit saya yang mungkin saja adalah potensi terbesar yang saya miliki saat ini yaitu, menulis. Dimulai dari aktif menulis blog, meskipun saya juga sudah menulis di blog tersebut sejak 2 tahun terakhir. Berani untuk ikut berbagai lomba menulis dan proyek buku bersama. Hasil optimal menulis telah saya buktikan sendiri. Saya menjadi salah satu pemenang dengan hadiah dinner eksklusif bersama Muhammad Assad, banyak buku hasil proyek buku bersama dan punya buku hasil karya saya sendiri J

Saya pun mulai mencoba untuk berani memulai bisnis kecil-kecilan, baik sendiri ataupun bersama teman. Berani mengungkapkan ide dan bijaksana menerima usulan ataupun kritik. Berani untuk bermimpi setinggi dan sebesar mungkin.

Hingga, saya sampai pada suatu titik bahwa pengangguran dalah waktu  yang berharga. Cobalah untuk berpikir “beda“ dan “out-of-the-box“. Lihatlah sesuatu dari berbagai sisi, bukan hanya dari satu sisi saja. Beranilah untuk mengambil keputusan sendiri, bukan karena orang lain, bukan dipengaruhi orang lain.

Pengangguran adalah waktu untuk berpikir. Mencari apa yang sesugguhnya dibutuhkan bukan sekedar diinginkan. Berpikir sendiri, selami diri sedalam mungkin. Jangan takut untuk bertindak, jangan takut untuk jatuh. Resiko? Itu adalah tantangan. Halangan? Itulah bagian dari perjalanan.

Pengangguran adalah waktu untuk berkarya. Sebelumnya hanya berkarya “akibat“ tugas, sekarang saatnya berkarya yang sesungguhnya. Gali potensi diri dan maksimalkan. Perkataan orang lain janganlah dipedulikan karena bukti lebih penting dari sekedar jawaban.

Jadilah, PENGANGGURAN KREATIF!

Sesungguhnya, pengangguran kreatif jauh lebih positif dibandingkan hanya karyawan kantoran biasa. Pengangguran kreatif lebih inovatif dibandingkan apply lamaran kerja kemana-mana. Pengangguran kreatif menciptakan diri terbaik dari diri sendiri karena mengikuti passion. Memberikan apa yang dibutuhkan bukan sekedar diinginkan. Find your passion, write your own destiny!

5 thoughts on “Pengangguran Kreatif

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s