Ketika Cinta Bertepuk Sebelah Tangan

Semua kesalahan adalah dari saya, dan mungkin kamu, semoga kita bisa sama-sama saling instropeksi diri

Saya pernah mengikuti seminar Enterpreneurship dengan Iim Fahima sebagai salah satu pembicara. Beliau berkata bahwa mencari partner usaha itu seperti mencari jodoh karena, bisnis itu seperti pernikahan. Saya selalu ingat pesan itu. Ternyata mbak Iim Fahima benar, saya mengalaminya.

Semua berawal ketika saya hendak membangun usaha sendiri. Saya sudah siapkan beberapa ide dan sebisa mungkin menuangkannya dalam business plan. Saya pilih satu ide sebagai langkah awal. Ide ini membutuhkan banyak SDM dan saya memang berniat untuk mengajak teman-teman untuk bergabung.

Beberapa teman sudah saya hubungi. Tiga orang temen berhasil saya beri penjelasan. Pada saat itu juga mereka merasa tertarik dan setuju untuk bergabung. Dari percakapan kami, didapat persetujuan bahwa dua orang nantinya mungkin akan berbeda visi. Mereka lebih memiliki cita-cita sebagai karyawan. Namun, sebelum cita-cita mereka tercapai, mereka memiliki keyakinan untuk sama-sama membangun usaha ini.

Saya pun merencanakan pertemuan selanjutnya. Saya tanyakan kepada tiga teman saya tersebut kapan waktu yang sesuai. Agar semua bisa datang, usaha pun segera berjalan. Disetujui waktu kira-kira lima hari setelah pertemuan pertama.

Sampai di rumah, saya update keadaan via email kepada semua teman-teman yang ingin saya ajak untuk bergabung. Tiga teman yang telah mendapatkan penjelasan pun saya kirimkan email sebagai bagian dari proses refreshment. Dalam email tersebut saya memberitahukan tentang garis besar usaha disertai attachment executive summary, isi pertemuan pertama dan informasi pertemuan selanjutnya. Saya juga meminta konfirmasi kedatangan mereka pada pertemuan selanjutnya.

Saya berharap dengan adanya waktu kurang lebih lima hari sampai pertemuan selanjutnya, teman-teman dapat meminta ijin orang tua, mengosongkan jadwal dan menjadikannya sebagai prioritas. Saya juga menginformasikan bahwa bila tidak dapat hadir, alangkah baiknya bila dapat memberitahu dengan tidak mendadak.

Total teman yang saya kirimkan email adalah enam orang. Tiga orang telah saya beri penjelasan, tiga orang belum. Sayangnya, dari enam orang teman, yang memberi tanggapan hanya satu orang. Dia pun sudah memiliki usaha sendiri tetapi sangat tertarik untuk bergabung. Bahkan dia berencana untuk mengikuti pertemuan selanjutnya via skype. Saya sangat tersanjung dan benar-benar menghargai niat baiknya.

Tiga orang yang telah saya beri penjelasan, saya asumsikan telah mengerti, jelas dan pastinya bisa datang pada pertemuan selanjutnya. Tinggal sisa dua orang, mereka tidak kunjung memberi tanggapan.

Saya menunggu tanggapan, jawaban ataupun pendapat mereka. Saya selalu bersedia dihubungi baik secara online ataupun offline. Sampai satu hari sebelum pertemuan, dua teman saya tersebut belum juga memberi tanggapan. Saya asumsikan mereka bersedia untuk bergabung dan bisa datang pada pertemuan selanjutnya.

Malam hari sebelum pertemuan selanjutnya, saya memberikan reminder kepada teman-teman melalui twitter. Malam-malam, dengan harapan semua memberi tanggapan positif dan siap untuk mendapat penjelasan.

Pagi hari pertemuan selanjutnya, empat orang teman saya berkata bahwa mereka tidak bisa datang. Dua orang diantara mereka adalah teman-teman yang sudah mendapat penjelasan, sama-sama menjadwalka pertemuan selanjutnya ini dan telah berjanji untik datang. Tetapi, Insya Allah mereka semua akan hadir pada pertemuan selanjutnya nanti di kemudian hari, entah kapan.

Jujur, saya shock. Saya telah berharap banyak dengan tingkat harapan yang sangat tinggi. Kalaupun mereka tidak bergabung, setidaknya mereka telah mendengar penjelasan saya.

Saya pun sudah menginformasikan bahwa jika berhalangan hadir, alangkah baiknya dapat memberitahu dengan tidak mendadak. Ataukah mungkin mereka tidak bisa datang karena tidak tertarik? Karena tidak ingin bergabung? Saya tidak tahu. Tidak ada tanggapan ataupun penolakan yang saya terima sejak email pemberitahuan saya kirimkan.

Dari tiga orang teman saya mendapat persetujuan untuk bergabung dan datang di pertemuan pertama. Dua orang teman tidak menyampaikan apapun ke saya. Seperti yang saya tulis sebelumnya, saya berasumsi bahwa mereka bersedia untuk bergabung dan bisa datang pada pertemuan selanjutnya. Lalu, bagaimana bisa saya rela mendapat penolakan seperti itu?

Akhirnya saya sampaikan pada mereka bahwa pertemuan ini bukan untuk main-main, ada tujuan yang ingin dicapai dan seharusnya, jika ingin bergabung, bisa menjadikan pertemuan ini sebagai prioritas. Kalau memang mereka tidak ingin bergabung, segera sampaikan sekarang ke saya. Jangan buang waktu lebih banyak lagi. Dengan begitu kita tidak akan sama-sama membuang-buang waktu.

Saya ingin usaha ini segera berjalan, agar dapat segera memberikan manfaat bagi semua baik secara keuangan ataupun kemapanan. Itu adalah alasan saya, mengapa saya ingin segera mendapat komitmen dan kejelasan.

Dan, tak disangka, jawaban datang bertubi-tubi. Semua merasa benar. Semua berargumen. Tunggu dulu, kenapa semua terlihat marah?

Saya kirimkan lagi email baru yang berisi pendapat saya mengenai gagalnya pertemuan hari ini. Tujuan saya, harapan saya dan keinginan saya untuk mendapat komitmen dan kejelasan mereka. Lucunya, entah mengapa saya merasa bahwa email saya yang satu ini pasti akan mendapat banyak balasan.

Benar saja, banyak membalas. Semua berargumen, menasehati saya dan menyampaikan ketidaksetujuannya untuk bergabung. Saya baca balasan email sambil tarik-buang napas.

Ada yang berkata seharusnya saya tidak asal menuduh dengan mengatakan bahwa pertemuan ini tidak menjadi prioritas mereka. Pertemuan ini adalah prioritas bagi mereka tetapi sayangnya ada prioritas lain yang lebih penting. Pertanyaannya adalah, bagaimana saya tahu? Tidak ada informasi yang sampai pada saya. Tidak ada pula diskusi diantara kita untuk mengkoordinasikan prioritas-prioritasnya agar saling seiring sejalan dan tidak mengorbankan usaha.

Ada lagi yang berpendapat bahwa saya terlalu mengungkapkan pendapat tanpa berpikir terlebih dahulu. Langsung menyerang tanpa mengerti keadaan mereka. Lagi, bagaimana saya tahu? Selama lima hari saya menunggu, tidak ada tanggapan dan masukan. Sangat wajar bagi saya untuk memiliki kesimpulan sendiri dan mengungkapkan pendapat saya se-gamblang mungkin.

Tetapi ada juga yang to the point, dengan jujur mengakui kekurangannya, dengan jujur menyampaikan bahwa dia tidak bisa mengambil semua kesempatan. Akhirnya, usaha inilah yang menjadi korban meskipun dia sangat tertarik untuk terus bergabung. Saya sangat menghargainya. Terutama cara penyampaiannya.

Pada akhirnya, semua berkesimpulan untuk tidak bergabung. Beberapa setelah berargumen panjang, terkadang ada instropeksi, tak jarang pula memojokkan saya. Satu hal yang saya syukuri, Alhamdulillah saya mendapat kejelasan. Dengan begini saya tidak perlu berharapa terlalu banyak dan tinggi lagi.

Pertemuan tetap berjalan bersama satu orang teman yang sejak awal memang sangat tertarik dan ingin bergabung. Pertemuan diawali dengan instropeksi diri saya dengan meminta pendapatnya. Dia berkata bahwa dilihat dari email beserta balasan-balasannya, semua mau menang sendiri, termasuk saya. Tetapi, dia berpendapat bahwa, logika saya benar. Penyampaian saya benar. Semua yang saya lakukan sudah benar. Hanya orang lain saja yang menangkapnya dengan persepsi berbeda.

Saya tidak tahu mana yang benar atau salah. Saya hanya tahu bahwa saya telah mendapat kepastian akan kelanjutan usaha ini. Juga, pelajaran penting dari keadaan ini.

Lucunya, hasil pertemuannya adalah kami berdua dengan mudahnya merubah bentuk usaha. Rencana usaha awal yang direncanakan untuk dibicarakan bersama-sama tersebut, dengan mudahnya kami ganti dengan usaha lain yang tidak terlalu membutuhkan banyak SDM.

Kami berdua tertawa. Ini terlalu lucu. Pagi tadi, penuh dengan berbagai argumen tentang jalannya usaha A dengan hasil bergugurannya para calon partner. Tetapi, ironisnya, pertemuan diakhiri dengan persetujuan untuk lebih fokus ke usaha B.

Saya jadi ingin bertanya kepada mereka yang tidak ingin bergabung, apakah setelah mengetahui tentang usaha B mereka menyesali keputusannya? :p

Hasil tersebut menunjukkan bahwa bukan seberapa tertariknya kita terhadap tipe usaha untuk memiliki usaha sendiri tetapi seberapa besar keinginan kita untuk menciptakan usaha sendiri.

Seperti yang disampaikan Rasulullah SAW, bahwa dari 10 pintu rizki, 9 pintu berasal dari perniagaan. Mengapa kita tidak mengambil kesempatan tersebut?

At least, saya minta maaf sebesar-besarnya apabila ada hati yang tersakiti, ada tindakan yang tidak diridhoi dan ada kata-kata yang sulit dipahami. Insya Allah, dengan ikhlas menyerahkan semuanya pada Allah SWT, saya telah memaafkan seluruh pihak yang mungkin tanpa sengaja ataupun tidak, sempat membuat hati sakit dan air mata jatuh.

Semua yang baik datangnya dari Allah SWT dan semoga dapat memberi manfaat. Semua kesalahan adalah dari saya, dan mungkin kamu, semoga kita bisa sama-sama saling instropeksi diri.

PS: Jika ada pendapat yang ingin disampaikan, lebih baik tidak melalui tulisan. Saya bersedia untuk bertemu tatap muka, agar tidak ada lagi kesalahpahaman.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s